Berbeda-beda tetapi tetap satu

 Berbeda dengan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan praktik-praktik religius Islam juga sudah lazim diketahui oleh masyarakat, di negara asalnya. Zeng belum pernah melihat orang yang sedang shalat. Tidak heran jika ia bingung dengan pemandangan temannya yang terselubung mukena putih sambil komat-kamit di dalam sebuah ruangan sendirian.

Penjelasan saya mengenai shalat akhirnya berlanjut ke topik berpuasa di bulan Ramadhan hingga pemakaian jilbab bagi perempuan. Teman-teman saya-Zeng. Haruka (mahasiswa Jepang), dan Dong (mahasiswa dari Vietnam)

Kami pun juga mendiskusikan praktik-praktik keagamaan atau kepercayaan di China, Jepang, dan Vietnam. Zeng, Haruka, dan Dong bercerita bahwa memang terdapat praktik-praktik religius di negara masing-masing seperti persembahan bagi dewa-dewi di China, ibadah kuil di Jepang, dan penghormatan bagi nenek moyang Vietnam. Namun, mereka pribadi tidak merasa perlu hal ini dikatagorikan dalam satu kelompoknya kepercayaan tertentu.

Kehidupan perkuliahan selama dua tahun di Australia memberikan saya pelajaran berharga tentang pertukaran budaya dan persahabatan. Perbedaan agama dan keyakinan di antara kelompok pertemanan saya tidak pernah menjadi masalah, justru memperkaya pengalaman dan pengertian kami.

Perbedaan latar belakang di antara para mahasiswa asing di Australia tidaklah menjadi sumber konflik dan perpecahan, justru menjadi perekat persaudaraan antarbangsa yang indah dan tak terlupakan.




Comments